Perayaan 100 Tahun Jam Gadang baru saja berlalu.Berbagai event dan perlombaan digelar untuk “menghormati ” seabad Ikon Utama atau landmark Kota Bukittinggi tersebut.
Jika ditinjau dari segi perjalanan sejarahnya, Jam Gadang telah melewati tiga zaman penting mulai zaman Kolonialisme Belanda, zaman Pendudukan Jepang hingga zaman kemerdekaan.
Hal ini ditandai dengan perubahan dari puncak menara bersejarah yang juga disebut The Kurai Wilhelmina Tower ini.
Jam Gadang bukan sekadar penunjuk waktu semata, namun juga sebuah identitas sejarah, yang tetap teguh dan berdiri kokoh sampai saat ini.
Dalam rangkaian perayaan 10O Tahun Jam Gadang ini, juga dilaksanakan sebuah Seminar Nasional bertajuk Bukittinggi Kota Perjuangan.
Apabila, kita membaca judul seminarnya, tentunya ingatan kita kembali kepada memori tahun 1948-1949 silam. Dalam periode tersebut, meletuslah Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948. Dimana, Belanda ingin kembali menguasai republik tercinta ini.
Dari peristiwa tersebut, Belanda berhasil menguasai ibukota Negara yakni Jakarta dan Jogja (Yogyakarta).
Di tengah kondisi Jogja yang tidak aman, maka muncullah nama sebuah daerah yakni Bukittinggi sebagai “penerus” ibukota Negara. Kemudian, Menteri Kemakmuran RI waktu itu Mr. Syafrudin Prawiranegara yang berkedudukan di Bukittinggi , nendapat telegram atau surat kawat, untuk mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Terbentuknya PDRI di Bukittinggi menjadikan pusat pemerintahan sementara berada di Bukittinggi. Lalu, pemimpin PDRI mengabarkan kepada dunia, bahwa Republik Indonesia masih ada melalui Radio YBJJ6, yang saat ini tersimpan di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma Bukittinggi.
Momentum PDRI di Bukittinggi menjadi pokok utama dan topik hangat dalam Seminar Nasional tersebut. Sejarah PDRI diulas , dibahas dan diselami oleh para pakar, tokoh-tokoh termasuk para Akademisi Sejarah.
Bahkan, Pakar Sejarah atau Sejarahwan senior Prof.Anhar Gonggong mengatakan bahwa Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan tidak bisa terbantahkan karena pernah menjadi ibukota PDRI. Bukittinggi juga memiliki kekhasan sejarah yang tidak dimiliki daerah lain karena menjadi pusat "kenyataan kedaruratan Republik" yang menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia ketika pemerintahan pusat mengalami krisis.
Prof Anhar menilai Bukittinggi Kota Perjuangan harus memiliki ciri khas khusus atau identitas sendiri. Apalagi Bukittinggi tercatat dalam sejarah , sebagai Ibukota Pemerintah Darurat Repuiblik Indonesia
Dukungan dari berbagai tokoh nasional menjadi modal penting bagi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam memperjuangkan pengakuan yang lebih luas terhadap nilai historis dan kontribusi Bukittinggi dalam perjalanan bangsa.
Selain itu, dukungan terhadap Bukittinggi sebagai Kota PDRI atau Bukittinggi sebagai Penyelamat NKRI, juga disampaikan para akademisi dari Universitas Andalas dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Mereka menyampaikan simbol-simbol sejarah yang terdapat di Bukittinggi serta peran Bukittinggi saat Agresi Militer Belanda II. Dimana, Bukittinggi turut mengambil peran penting dalam momentum sejarah itu, bersama Yogyakarta dan Bangka.
Bukittinggi, Jogja dan Jakarta memang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara. Namun, satu daerah yang tidak boleh dilupakan adalah Bangka sebagai panggung diplomasi republik. Sedangkan, Bukittinggi sebagai simbol bahwa Negara yang tetap berjalan atau Negara benar-benar tetap beroperasi. Untuk Yogyakarta berperan sebagai simbol ibukota RI. Selama periode Desember 1948 sampai Juli 1949, muncul poros tiga kota yakni Yogyakartam, Bangka dan Bukittinggi. Tiga kota ini memiliki peran selama Agresi Militer Belanda II berlangsung.
Yogyakarta menjaga jiwa Republik dan Bukittinggi menjaga Operasional Republik.
Jika kita mengamati perjalanan sejarah periode 1948-1949 tersebut, peran Bukittinggi sangat signifikan sebagai penyelamat NKRI. Terlepas dari banyak pandangan atau versi yang muncul terkait Bukittinggi Penyelamat NKRI dengan sejarah PDRI ini, akan tetapi rekam jejak sejarah tidak bisa terbantahkan.
Fakta sejarah tetap menyatakan bahwa ketika Jogja diduduki Belanda,maka kelanjutan pemerintahan Negara ini “diamanahkan” ke Kota Bukittinggi. Bahkan, di Bukittinggi juga terdapat sebuah Rumah PDRI, yang menjadi tempat berkunpulnya para pemimpin PDRI kala itu.
Jam Gadang, PDRI dan banyak peninggalan sejarah di Kota Bukittinggi, adalah penanda bahwa Kota kelahiran Sang Proklamator Bung Hatta ini merupakan daerah yang sangat berperan dalam sejarah. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah sejarah panjang Jam Gadang hanya “dihargai” dalam bentuk seremoni saja? Atau apakah ada cita-cita besar yang akan dicapai kedepannya?
Bukittinggi Kota Perjuangan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata lantang atau dihebohkan dengan seremoni seperti seminar, diskusi, lomba dan sebagainya. Slogan Bukittinggi Kota Perjuangan harus mengakar sampai kepada masyarakat, insan pendidikan serta generasi muda.
Mereka dapat ikut serta memaknai, merenungi, mendalami dan turut merasakan bagaimana Bukittinggi saat zaman revolusi dulu. Dimana, para pahlawan berjuang dengan berbagai cara dari perjuangan diplomasi sampai perjuangan gerilya mengangkat senjata.
Khusus generasi muda atau generasi penerus bangsa, perjuangan para pahlawan dapat dimaknai dengan cara mengunjungi objek-objek bersejarah, museum, membaca buku tentang sejarah, atau membuat kreatifitas yang berhubungan dengan mengenang sejarah perjuangan bangsa.
Melalui metode ini, tentunya makna Bukittinggi Kota Perjuangan turut pula dirasakan oleh para siswa atau mahasiswa. Sehingga, Jam Gadang, sejarah PDRI dan objek-objek peninggalan sejarah lainnya, benar-benar dapat menjadi memori khusus bagi mereka.
Kita semua perlu mengingat bahwa sejarah bukan sekadar dikenang. Namun sejarah akan tetap “hidup” jika dimaknai atau diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Jejak sejarah jangan menjadi milik “sekelompok tertentu” saja.Jejak sejarah harus dimiliki seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Semoga, Jam Gadang,sejarah PDRI dan bangunan bersejarah di Bukittinggi tetap lestari sepanjang masa. Dan, kita tentu berharap cita-cita besar Bukittinggi menjadi Daerah Khusus dan Daerah Istimewa serta salah satu kota berpengaruh di panggung sejarah bangsa, dapat terwujud dan terealisasi hendaknya. Selain itu, sejarah Bukittinggi tidak akan pernah pudar dan selalu menjadi kenangan yang tidak dilupakan.
Via
budaya
Posting Komentar