Detikjamgadang,Bukittinggi--Pagi itu, Selasa, 11 Maret 2026, suasana di kantor Lembaga Amil Zakat (LAZ) Ashpen terasa berbeda. Sebuah mobil hitam berhenti di depan bangunan bernuansa hijau segar tersebut sekitar pukul 09.30 WIB. Dari dalamnya, turun seorang ibu senior berpenampilan anggun dengan menggenggam tongkat penopang, didampingi oleh Prof. Ndut Ahdiat. Kehadiran beliau disambut hangat oleh keluarga besar LAZ Ashpen dengan hidangan istimewa dan rasa hormat yang mendalam.
Tamu kehormatan tersebut adalah Rohani Din atau yang akrab disapa Bunda Ani seorang penulis terkemuka asal Singapura. Di negerinya, pengaruh tulisan Bunda Ani seperti Asma Nadia di Indonesia; gagasan dan narasinya mampu membentuk pola pikir pembaca. Tak heran jika karya-karyanya sering menyabet penghargaan, hingga beliau dinobatkan sebagai penerima penghargaan pengabdian seumur hidup (lifetime achievement).
Namun, hal paling mengagumkan dari Bunda Ani bukanlah deretan pialanya, melainkan daya tahan jiwa dan semangat berkaryanya.
Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, beliau masih mampu menulis secara produktif sepanjang hari. Rahasia energinya ternyata berakar pada kedekatan spiritual: sebelum mulai menggoreskan pena, beliau selalu menuntaskan bacaan Al-Qur'an minimal satu juz setiap hari.
Yang membuat kisah ini kian bergetar adalah kondisi fisiknya. Bunda Ani telah melalui tiga kali operasi besar. Pada operasi terakhir, jantungnya sempat berhenti berdenyut selama dua hari sebelum akhirnya dibantu oleh kecanggihan teknologi medis di Singapura. Tak hanya itu, beliau juga berjuang tanpa tulang belakang yang utuh—seseorang yang secara medis ibarat ubur-ubur tanpa penopang. Namun, di balik fisik yang penuh ujian tersebut, tersimpan mental baja. Bagi Bunda Ani, usia 73 tahun adalah angka, tetapi semangatnya tetap membara bak pemuda berusia 37 tahun.
Menyulut Kembali Api Literasi dan SDM Bangsa
Kisah perjuangan Bunda Ani menghantam kesadaran kita. Saat bangsa ini melangkah mendekati usia 81 tahun kemerdekaan, kita masih dihadapkan pada kenyataan pahit: sekitar 4 juta anak bangsa mengalami putus sekolah. Kemerdekaan sejati dari kemiskinan dan ketertinggalan belum sepenuhnya tergenggam.
Bagaimana mungkin kita yang memiliki fisik utuh dan muda justru kalah bersemangat dari seorang ibu sepuh bertongkat?
Kunjungan Bunda Ani ke Gerakan Literasi ASPEN adalah sebuah lecutan keras sekaligus panggilan jiwa. Sumatera Barat, yang dalam sejarah dikenal sebagai rahim lahirnya tokoh-tokoh besar dan pemikir bangsa, tidak boleh hanya berbangga pada kenangan masa lalu. Kita harus membangkitkan kembali kejayaan itu.
Melalui gerakan literasi, LAZ ASPEN berkomitmen untuk terus membangun sumber daya manusia—membangun mindset, character, dan narasi-narasi yang mencerdaskan. Karena hanya dengan mental yang terbangun dengan baik, anak-anak bangsa akan mampu membebaskan negerinya dari kemiskinan dan kebodohan.
Mari kita jadikan keteladanan Bunda Ani sebagai pemantik api semangat. Jika satu jiwa yang diuji secara fisik sanggup memberi dampak lintas negara, maka tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti berkarya dan berbagi demi masa depan pendidikan anak bangsa.
Via
Motivasi
Posting Komentar