Kabar Baik Bagi Industri Pendidikan Tinggi
Dr. Gusrizal, Pemerhati Pendidikan
Beberapa waktu lalu Rektor Paramadina Prof. Dr. Didik J Rachbini menyampaikan pandangannya terkait dengan penerimaan siswa baru. Dalam sebuah Head Line beritanya "Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Terima Mahasiswa Jumlah Besar : Rusak Ekosistem". Lebih lanjut beliau menilai "keadilan ekosistem pendidikan harus dijaga. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) harus dijaga" Didik menilai "PTN yang melakukan penerimaan mahasiswa dalam jumlah besar dan di luar batas kewajaran merusak ekosistem".
Hal senada juga pernah saya sampaikan dalam sebuah berita yang terkait dengan penerimaan siswa baru dengan sedikit nada satir, "Mampukah Perguruan Tinggi Negeri Menampung Seluruh Siswa Baru ". Dalam tulisan saya yang lain, saya juga menulis sekaligus memberikan saran dengan narasi berita, "Harus Ada Kerjasama PTN dengan PTS.
Keberadaan PTS tidak bisa dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Dapat dibayangkan bagaimana kira-kira bila tidak ada PTS di negara kita ini, ke mana tamatan Sekolah Menengah Atas dapat melanjutkan study mereka? PTS sudah memberikan banyak kontribusi kepada pemerintah, namun sayang keberadaan PTS kadang terabaikan. Untuk bahan simulasi, saya ambilkan contoh di Kota Bukittinggi. Bukittinggi memiliki 14 lembaga Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mulai dari Akademi sampai Universitas dan itu belum termasuk PTN seperti UIN Bukittinggi dan UNP Belakang balok. Dengan total siswa secara keseluruhan, diperkirakan lebih kurang 10.000 (sepuluh ribu) siswa, secara sederhana saja, kita ambil katakanlah 5.000 (lima ribu) siswa yang mengontrak rumah di Bukittinggi, maka keberadaan PTS sudah dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat Bukittinggi karena keberadaan mereka memberikan "multiplier effect" yang dapat menggerakkan sektor ekonomi masyarakat. Oleh sebab itulah, saya selalu menyarankan kepada Pemerintah Daerah, Bukittinggi bukanlah Kota industri seperti layaknya kota-kota di Jawa pada umumnya. Bukittinggi hanya bergantung pada sektor Pariwisata dan Pendidikan. Sektor Kesehatan secara garis besar itu dimiliki oleh Provinsi dan Pusat. Sektor perdagangan juga terlihat lesu. Pasar aur yang sebelumnya digadang-gadangkan seperti Tanah Abang nya Jakarta, karena kurang dikelola secara maksimal, sekarang kondisinya juga sedang tidak baik-baik saja, artinya sekarang Bukittinggi nyaris bergantung pada sektor Pariwisata dan Pendidikan lagi. Terkait keberadaan PT, tahun 2023 lalu ketika saya melakukan kegiatan mengajar di salah satu sekolah di Jepang, saya berkesempatan mengunjungi salah satu Perguruan Tinggi hebat di daerah "Kawague". Di sini berdiri Universitas ternama "Tokyo International University". Semula saya berfikir ini PTN, namun tidak, ini merupakan PTS hebat yang ada di kota ini. Walikota Kawague merawat, memperhatikan serta memberikan dukungan kepada pihak pengelola. Walikota sangat dapat memahami, keberadaan PTS ini karena memberikan "multiplier effect" yang menggerakkan sektor ekonomi masyarakat.
Semoga keberadaan dan keberlangsungan PTS lebih dapat diperhatikan lagi oleh Kepala Daerah. Walaupun PT bukanlah menjadi wewenang dari Kepala Daerah, namun Kepala Daerah mempunyai tugas untuk membina serta membantu keberlangsungan PTS yang ada di wilayah kerja mereka. Namun terlepas dari sumua itu, saya bersyukur beberapa hari lalu saya membaca berita, setidaknya ada angin segar bagi dunia Perguruan Tinggi di tanah air. Setidaknya hal ini telah disampaikan langsung oleh Pemerintah melalui Prof. Mukhamad Najib, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, yang juga sahabat saya sewaktu beliau bertugas di Australia beberapa waktu lalu. Sebagai Pemerhati Pendidikan saya ikut senang membaca Head Line berita beliau di salah satu media dengan head line : "Beri Ruang untuk PTS, Kemendiktisaintek Pastikan Seleksi PTN Berakhir Juli 2026" Secara rinci beliau mengatakan "Jadi tahun ini PTN-PTN itu tidak meningkatkan jumlah recruitmen mahasiswanya. Jadi kuotanya tetap ya, kita harus batasi, dia tidak meningkatkan jumlah recruitmen mahasiswa"
Ini tentu saja berita baik dimana PTS punya peluang untuk mendapatkan limpahan siswa dari PTN. Selama ini kan tidak, PTN memiliki rentang waktu seleksi penerimaan siswa baru yang relatif lama. "Ibarat urang mamareh karambia, ndak do santan nan kalualih, itu nan dilakukan PTN salamoko." Semoga saja industri Pendidikan Tinggi di Indonesia dapat hidup dan bangkit kembali, akan ada kesetaraan dalam alokasi penerimaan siswa baru. Ini tentu saja kabar baik bagi industri Pendidikan Tinggi di negeri ini.
Posting Komentar