Menembus Batas Lewat Aksara: Kisah Denia, Penulis Muda Bukittinggi yang Merambah Gyeonggi
Bukittinggi,detikjamgadang— Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanyalah aktivitas merangkai kata di atas layar gawai. Namun bagi Denia, setiap goresan pena adalah detak pertumbuhan, ruang untuk terus belajar, dan jembatan untuk membagikan kebermanfaatan kepada sesama.
Gadis muda yang akrab disapa melalui nama pena Y.A Aksa atau Yaya Aulya ini telah mengukir rekam jejak yang impresif. Di usianya kini, Denia telah berhasil menuntaskan 25 karya yang lahir dalam bentuk buku solo maupun antologi.
"Menulis bagi saya adalah perjalanan tanpa akhir," ungkap Denia hangat. Bagi Denia, setiap lembar yang ia selesaikan adalah bukti dari prosesnya untuk tidak pernah berhenti bertumbuh.
Deretan Prestasi dari Debat hingga Bahasa Asing
Perjalanan Denia di dunia literasi dan kompetisi bukanlah proses semalam. Sejak tahun 2022, namanya kerap berseliweran di berbagai ajang penghargaan. Mulai dari menjadi finalis ajang nasional Bumiku Kelak, meraih apresiasi dalam Lomba Artikel Museum tingkat kota, hingga beradu gagasan dalam lomba debat di Kota Bukittinggi.
Tak berhenti di tingkat lokal, kepiawaiannya berbahasa membawa Denia melangkah lebih jauh. Pada tahun 2025, ia sukses menembus panggung nasional sebagai finalis dalam ajang Bahasa Asing Gebuminang.
Namun, ada satu titik balik yang paling membekas dalam ingatannya: kesempatan emas mengikuti program pertukaran pelajar ke Yeoncheon School, Gyeonggi, Korea Selatan. Pengalaman internasional itu diakuinya telah membuka mata dan memperluas cakrawala berpikirnya tentang dunia luar.
Mengabdi di Ruang Kelas dan Rumah Literasi
Kecintaan Denia pada ilmu pengetahuan juga membawanya ke dunia pendidikan. Pada tahun 2023, ia mendapatkan kehormatan untuk berbagi ilmu sebagai Guru Tamu di SD Lebah Pembelajar. Pengalaman ini semakin menebalkan keyakinannya bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan.
Kini, energi kreatif Denia menemukan rumahnya di Rumah Literasi Ashpen. Bersama tim yang solid, ia baru saja merilis karya teranyar berupa novel berjudul "Bukan Kami yang Menolong Mereka".
Novel ini terasa sangat spesial bagi Denia. Bukan hanya karena ceritanya yang kuat, melainkan karena proses kreatif di baliknya yang menguras energi dan emosi. Karya ini lahir dari buah keringat, kerja keras, wawancara mendalam, serta diskusi panjang yang penuh dinamika kolaboratif.
Keberhasilan Milik Bersama
Meskipun pundaknya kini sarat akan prestasi, Denia tetaplah sosok yang membumi. Ia menegaskan bahwa setiap capaian—terutama novel terbarunya—adalah milik seluruh tim yang telah berjuang bersama.
Bagi masyarakat Bukittinggi dan generasi muda, kisah Denia adalah pengingat bahwa kota kecil di ranah Minang ini tidak pernah kehabisan talenta hebat. Lewat tulisan, Denia membuktikan bahwa batas terjauh dari sebuah mimpi hanyalah sejauh mana kita berani melangkah dan konsisten berkarya.
Bagi Anda yang penasaran dan ingin membaca novel terbaru karya Denia dan tim Rumah Literasi Ashpen ini, "Bukan Kami yang Menolong Mereka" sudah bisa didapatkan dengan mudah. Buku ini dapat dipesan secara online melalui toko resmi Guepedia di Shopee cukup dengan mengetikkan judul bukunya, atau bisa juga diakses langsung melalui situs resmi guepedia.com.
Z.R
Posting Komentar