Detikjamgadang Biaro-Memasuki hari pertama di bulan September 2026, program Pesantren Lapas bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bukittinggi kembali dilaksanakan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Imam Bonjol Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Selasa, 1 September 2026, diisi dengan pembelajaran keagamaan yang mengangkat tema tentang bahaya penyakit hati.
Pada kesempatan tersebut, warga binaan mendapatkan pembekalan keagamaan dari Ustadz Ahmad Hamidi. Dalam penyampaiannya, ia mengajak para peserta untuk memahami pentingnya menjaga kebersihan hati sebagai bagian dari upaya memperbaiki diri, akhlak dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual.
Ustadz Ahmad Hamidi menjelaskan sejumlah penyakit hati yang perlu diwaspadai, di antaranya riya, hasad, dan takabur. Ketiga sifat tersebut, apabila dibiarkan dapat memengaruhi perilaku seseorang serta menghambat proses pembentukan pribadi yang lebih baik.
"Sifat riya dapat menghapus pahala, sehingga amal kebaikan yang dilakukan tidak bernilai di sisi Allah SWT karena niatnya bukan karena Allah, melainkan untuk mencari pujian manusia. Selain itu, sifat riya termasuk syirik kecil yang dikategorikan sebagai syirkul khafi yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW menimpa umatnya. Bahaya Riya selanjutnya yaitu menimbulkan kegelisahan, selalu merasa cemas jika penilaian atau pujian manusia terhadap dirinya berkurang," tegas Ustadz Ahmad Hamidi.
"Penyakit hasad juga sangat berbahaya, ia dapat memakan kebaikan, menghanguskan pahala kebaikan seseorang bagaikan api yang memakan kayu bakar. Selain itu, orang yang hasad tidak suka dan protes secara batin atas nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain, sehingga menyiksa diri sendiri, membuat hati pelaku selalu gundah, stres dan tersiksa melihat kebahagiaan orang lain," tambahnya.
"Sedangkan takabur, merupakan sifat yang dapat membuat seseorang merasa lebih baik, lebih hebat dan merendahkan orang lain, sehingga sangat dimurkai Allah. Pelakunya bisa terhalang masuk surga, karena di dalam hatinya terdapat kesombongan. Selain itu, ia akan mendapat kehinaan, akan dijauhi oleh masyarakat di dunia dan diancam siksa neraka di akhirat," pungkasnya
Melalui materi tersebut, peserta diajak untuk melakukan introspeksi diri, mengenali berbagai bentuk penyakit hati serta berupaya menjauhinya dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ikhlas, rendah hati, saling menghargai dan senantiasa memperbaiki diri menjadi bagian penting dalam proses pembinaan keagamaan.
Kegiatan Pesantren Lapas ini diharapkan tidak sekadar menjadi sarana menambah pengetahuan agama, tetapi juga menjadi ruang pembinaan spiritual bagi warga binaan. Dengan pemahaman keagamaan yang terus diberikan secara berkesinambungan, diharapkan tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri, membangun akhlak yang lebih baik, serta mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Pelaksanaan Pesantren Lapas menjadi salah satu bentuk ikhtiar Kementerian Agama Kota Bukittinggi dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang humanis dan berkelanjutan bagi warga binaan, sekaligus memberikan bekal spiritual agar mereka dapat menjalani proses pembinaan dengan lebih baik.
(Andreas)
Via
agama
Posting Komentar