Detikjamgadang, Bukittinggi-- Kementerian Agama Kota Bukittinggi terus memperkuat pembinaan keagamaan bagi warga binaan melalui program Pesantren Lapas yang dilaksanakan secara berkelanjutan di Lapas Kelas IIA Bukittinggi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan keagamaan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan dan kepercayaan diri warga binaan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Kegiatan Pesantren Lapas kembali dilanjutkan pada Selasa, 29 September 2026, dengan menghadirkan Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Bukittinggi, Darul Aspani, sebagai pemateri.
Pada kesempatan tersebut, Darul Aspani menyampaikan materi tentang “Adab Berdakwah dan Metode Dakwah”. Materi tidak hanya membahas bagaimana menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menekankan pentingnya adab, keteladanan, cara berkomunikasi, serta pemilihan metode yang tepat agar dakwah dapat diterima dan memberikan manfaat bagi orang lain.
"Alhamdulillah, setiap pertemuan berlangsung secara interaktif. Warga binaan tidak hanya mendengarkan dan memahami materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung apa yang telah dipelajari," terang Darul Aspani.
"Kesempatan untuk mempraktekkan materi , menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Kita mendorong warga binaan untuk berani tampil, menyampaikan pesan keagamaan, sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi di hadapan orang lain," ulasnya.
Melalui pola pembinaan yang memadukan pengetahuan, pemahaman dan praktik, Pesantren Lapas diharapkan mampu memberikan bekal yang lebih nyata bagi warga binaan.
"Sesuai dengan tujuan Trans Da'i, ilmu agama yang diperoleh tidak berhenti pada ruang pembelajaran, tetapi dapat menjadi modal untuk membangun sikap positif, memperbaiki diri dan kelak para warga binaan dapat mengambil peran yang bermanfaat di tengah masyarakat," tambahnya.
Program Pesantren Lapas merupakan salah satu bentuk komitmen Kemenag Kota Bukittinggi dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, humanis, dan berdampak, termasuk bagi masyarakat yang sedang menjalani masa pembinaan.
Dengan pembinaan yang dilakukan secara konsisten, Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berbenah dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat dengan bekal keagamaan dan keterampilan yang lebih baik.
(Andreas)
Via
agama
Posting Komentar