Oleh : Dr. Akhi Andriyaldi
Tongkat dan pakaian adalah hal sederhana yang sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, Allah swt ingin mengingatkan kita bahwa dalam hal sederhana tersebut terkandung pelajaran dan hikmah filosofis tersendiri bagi kehidupan manusia.
TONGKAT NABI MUSA AS.
Nabi Musa sendiri tidak menyadari bahwa tongkat yang ia gunakan sehari-hari ternyata menjadi simbol penting dalam perjalanan risalah dakwahnya. Tongkat Musa hanyalah tongkat yang ia gunakan untuk bertumpu ketika berjalan dan berdiri, menggugurkan dedaunan untuk kambing gembalaannya, untuk membuat lubang benih dan keperluan harian lainnya. Namun karena Nabi Musa adalah orang yang baik, taat dan saleh, justru lewat tongkat yang sederhana itu mampu menciptakan peristiwa besar seperti tongkatnya berubah menjadi ular, membelah lautan, memancarkan 12 mata air dari batu.
Nabi Musa AS. adalah seorang yang baik, saleh dan taat. Melalui kesalehan dan ketaatan itulah Allah merancang skenario di luar nalar biasa manusia. Dalam kehidupan kita, tongkat itu hanyalah sebuah simbol saja. Dalam konteks sekarang, tongkat bisa saja berupa ilmu yang sederhana, keterampilan, jabatan, pena, jaringan pertemanan, atau kemampuan berbicara. Persoalannya bukan semata-mata seberapa hebat alat tersebut, tetapi untuk kepentingan apa dan dalam ketaatan kepada siapa ia digunakan.
Begitu juga patut diingat bahwa tongkat hanyalah SEBAB, namun yang patut diingat adalah hanya ALLAH semata PEMBERI AKIBAT. Kita sebagai manusia diperintahkan melakukan sebab terbaik, tapi ingat jangan sampai menuhankan sebab.
BAJU NABI YUSUF AS.
Jika tongkat Nabi Musa menghadapi kezaliman yang bersifat terbuka: Fir‘aun, penyihir, laut, dan pengejaran, maka pakaian Nabi Yusuf menghadapi persoalan yang lebih tersembunyi: iri hati keluarga, manipulasi bukti, godaan, fitnah, dan kerinduan.
Puncak hikmahnya adalah bahwa kemuliaan tidak terletak pada bendanya. Tongkat tidak mulia karena kayunya, dan pakaian tidak mulia karena kainnya. Keduanya memperoleh makna karena terhubung dengan iman, ketaatan, kesabaran, dan kehendak Allah.
Yang sederhana (tongkat dan baju) menjadi agung ketika berada dalam jalan yang benar. Sebaliknya, sesuatu yang berharga dapat menjadi hina ketika digunakan untuk kebohongan dan kezaliman.
Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa manusia memerlukan dua kekuatan:
1. "Tongkat Musa", yaitu keberanian untuk bertindak menghadapi kebatilan.
2. "Pakaian Yusuf", yaitu kejernihan moral untuk menjaga kehormatan dan membaca kebenaran. Lewat bajunya yang dilumuri "darah" kebohongan, Nabi Yusuf AS dibenci dan dikucilkan 11 saudaranya yang lain. Karena bajunya robek dari arah belakang punggungnya ia menjadi mulia karena menjaga kehormatan dirinya ('iffah).
Via
Hikmah
Posting Komentar