pendidikan
Perkuat Kompetensi Guru Al-Qur'an: Membangun Manusia Pembangunan
DETIKJAMGADANG.com
Bukittinggi--Mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas transfer ilmu pengetahuan, tetapi merupakan tugas mulia dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebaikan serta mempersiapkan generasi yang berakhlak mulia. Untuk itu, kompetensi guru Al-Qur’an perlu terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, H. Irwan, didampingi oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren, Zulfabriandi saat memberikan penguatan kepada 900 guru Al-Qur’an se-Kota Bukittinggi.
Bertempat di Hotel Valmont Bukittinggi.
Senin, 2 November 2026.
H. Irwan menyampaikan bahwa profesi sebagai pengajar Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Kemuliaan tersebut tidak hanya bernilai di dunia, tetapi juga menjadi investasi amal yang pahalanya terus mengalir hingga akhirat.
"Menjadi guru Al-Qur’an adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah besar. Apa yang diajarkan kepada anak-anak hari ini akan menjadi bekal kehidupan mereka di masa depan. Karena itu, tugas ini harus dijalankan dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan kesungguhan," ungkapnya.
Ia menekankan, seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi, peningkatan kompetensi guru menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Guru Al-Qur’an dituntut untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, serta mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dengan karakteristik generasi saat ini.
Menurutnya, tantangan generasi muda semakin kompleks. Dekadensi moral yang dipengaruhi berbagai faktor membutuhkan benteng yang kuat agar anak-anak tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial.
H. Irwan juga menguraikan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga dimensi penting, yakni akal, qalbu (hati), dan nafsu. Pendidikan berperan mengembangkan akal agar mampu berpikir dan memahami ilmu pengetahuan, sementara qalbu menjadi cahaya yang memberikan nilai dan arah bagi pikiran. Keduanya diharapkan mampu mengendalikan dorongan nafsu sehingga manusia dapat menjalani kehidupan secara bijaksana.
"Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang cerdas secara intelektual. Harus ada kekuatan hati yang membimbing kecerdasan tersebut agar digunakan untuk kebaikan. Akal yang hebat harus disertai qalbu yang bercahaya, sehingga nafsu dapat dikendalikan dan perilaku tetap berada pada jalan yang benar," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pembinaan guru Al-Qur’an yang dilaksanakan merupakan salah satu ikhtiar Kementerian Agama dalam memperkuat kualitas pendidikan keagamaan. Guru diharapkan tidak hanya mampu mengajarkan kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak semata-mata diukur dari kemampuan peserta didik membaca ayat-ayat suci dengan baik dan benar, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tercermin dalam sikap, karakter dan perilaku mereka.
"Jangan sampai anak-anak kita hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi belum menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Inilah tanggung jawab kita bersama, bagaimana melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama," tambahnya.
H. Irwan mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan momentum pembinaan sebagai sarana meningkatkan kapasitas diri serta memperkuat komitmen dalam mendidik generasi Qur’ani.
Dihadapan 900 peserta yang terdiri atas guru MDTA, TPQ, RTQ, PQ, TKQ, serta Pondok Pesantren se-Kota Bukittinggi, ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru Al-Qur’an merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah dalam membangun manusia pembangunan, yakni manusia yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual, kematangan moral, dan kepedulian sosial.
"Semoga lahir guru-guru Al-Qur’an yang semakin profesional, berintegritas dan inspiratif dalam menjalankan tugasnya. Sebab, membangun generasi yang berkualitas harus dimulai dari pendidik yang berkualitas, dan membangun masa depan bangsa tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Al-Qur’an," pungkasnya.
(Andreas)
Via
pendidikan
Posting Komentar