DETIKJAMGADANG.com Bukittinggi, Humas--Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi terus memantapkan langkah strategis dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi sekaligus kokoh dalam pengamalan nilai-nilai agama. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan proyek perubahan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, H. Irwan, bertajuk “Penyuluhan Agama dan Kemandirian Umat”.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, H. Irwan didampingi Kepala Seksi Bimas Islam, H. Zulfikar, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Zulfabriandi, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Aldy Heko Putra, serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf, Husnul Bashir, kembali menggelar pertemuan bersama Penyuluh Agama Islam se-Kota Bukittinggi. Selasa, 20 Oktober 2026.
Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi dan turut dihadiri para kepala madrasah serta kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Bukittinggi.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi serta mengoptimalkan peran penyuluh agama sebagai ujung tombak pembinaan umat. Melalui proyek perubahan ini, penyuluhan agama diharapkan tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman dan praktik keagamaan, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pendampingan dan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam arahannya, H. Irwan menegaskan bahwa Penyuluh Agama Islam memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian umat. Kedekatan penyuluh dengan masyarakat, baik secara sosial maupun kultural, menjadi modal penting untuk mengenali potensi, memahami kebutuhan serta mendampingi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, peran penyuluh harus terus berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat. Penyuluh tidak cukup hanya hadir menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga perlu mengambil bagian dalam membangun kesadaran, menggerakkan potensi lokal, serta membuka jalan bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi umat.
“Penyuluh agama memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Potensi ini harus dimaksimalkan agar kehadiran penyuluh benar-benar dirasakan manfaatnya, bukan hanya dalam penguatan kehidupan beragama, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Kita ingin masyarakat yang kuat dalam pengamalan agama sekaligus berdaya dan mandiri secara ekonomi,” tegas H. Irwan.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kinerja dan kualitas pendampingan penyuluh, baik dalam bidang keagamaan maupun pemberdayaan ekonomi. Setiap penyuluh diharapkan mampu menjalankan tugas secara terarah, terukur, dan berkelanjutan sehingga pembinaan yang diberikan tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan menghasilkan perubahan positif dalam kehidupan masyarakat.
Lebih lanjut, H. Irwan mengajak seluruh penyuluh untuk mendukung terwujudnya masyarakat yang memiliki ketahanan ekonomi dan kekuatan spiritual. Menurutnya, kedua aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun kehidupan umat yang lebih baik. Pemahaman agama yang kuat perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat saling membantu.
Dalam menghadapi perkembangan zaman, ia turut mendorong para penyuluh agar memanfaatkan teknologi digital dan berbagai media komunikasi sebagai sarana memperluas jangkauan pembinaan. Pemanfaatan media digital tidak hanya membantu penyebaran pesan-pesan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi, publikasi program, serta dokumentasi kegiatan dan hasil pendampingan di lapangan.
“Setiap kegiatan penyuluhan harus memiliki tujuan yang jelas dan hasil yang dapat ditunjukkan. Manfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan dakwah, mendokumentasikan kegiatan dan membuktikan bahwa penyuluh hadir memberikan solusi bagi masyarakat. Kita ingin kinerja yang tidak hanya terlaksana secara administratif, tetapi juga memberikan dampak nyata,” tambahnya.
H. Irwan selanjutnya menggarisbawahi pentingnya memastikan setiap program Kementerian Agama benar-benar menyentuh kebutuhan umat. Salah satu fokusnya ialah pemberdayaan ekonomi umat, yang diharapkan mampu mendorong masyarakat mengembangkan potensi produktif, meningkatkan kemandirian, dan memperkuat kesejahteraan keluarga.
Selain itu, ia menyoroti program Satu Kelurahan Satu Tim Penyelenggaraan Jenazah sebagai bentuk penguatan pelayanan keagamaan berbasis masyarakat. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan setiap kelurahan dalam memberikan pelayanan fardu kifayah secara terorganisasi, sehingga masyarakat memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan siap membantu ketika dibutuhkan.
Perhatian juga diberikan terhadap keberlanjutan program Trans Da’i (Transformasi Narapidana Menjadi Da’i) di Lapas Kelas IIA Bukittinggi. Melalui program tersebut, warga binaan mendapatkan pembinaan keagamaan dan bekal pengetahuan dakwah sebagai bagian dari proses perbaikan diri. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran spiritual, memperkuat akhlak, serta membekali warga binaan dengan nilai-nilai positif untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan agama memiliki ruang pengabdian yang luas, mulai dari pembinaan spiritual, penguatan pelayanan sosial keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi dan pendampingan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
Melalui pertemuan ini, H. Irwan berharap seluruh Penyuluh Agama Islam, kepala KUA, dan kepala madrasah dapat memperkuat sinergi serta membangun kolaborasi sesuai dengan peran masing-masing. Kesamaan visi dan kerja sama lintas unit menjadi faktor penting agar proyek perubahan “Penyuluhan Agama dan Kemandirian Umat” dapat terlaksana secara efektif dan berkelanjutan.
“Keberhasilan proyek perubahan ini bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya. Kita ingin penyuluh agama menjadi penggerak perubahan yang menghadirkan solusi, memperkuat kehidupan beragama, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan membangun kepedulian sosial. Dengan sinergi dan komitmen bersama, kehadiran Kementerian Agama harus semakin dekat dan berdampak bagi umat,” pungkasnya.
Melalui penguatan peran penyuluh dan kolaborasi seluruh unsur di lingkungan Kementerian Agama Kota Bukittinggi, proyek perubahan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang lebih responsif, pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, serta kehidupan umat yang semakin religius, mandiri, dan sejahtera.
(Andreas)
Via
Kemenag
Posting Komentar