Gusniwati: Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Amanah
DETIKJAMGADANG.com Bagi Gusniwati, S. Sos. I., Gr., menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati untuk membimbing anak-anak meraih masa depan.
Perjalanan pengabdiannya dimulai sebagai guru honorer di SDN 11 Kamang Sari. Langkahnya kemudian membawanya ke Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, tempat ia mengabdi selama sepuluh tahun sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Setelah satu dekade mengajar di perantauan, takdir membawanya kembali ke kampung halaman, Kecamatan Kamang Magek, untuk melanjutkan pengabdian sebagai guru PAI di SDN 02 Magek. Ia kemudian dipercaya menjadi Plt. Kepala Sekolah selama enam bulan. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala MDTA Zulfa Dalam Koto selama lima tahun, dari 2021 hingga 2026.
Perjalanan tersebut menjadi bekal berharga hingga pada tahun 2026 ia dipercaya menjadi Kepala SD Negeri 06 Kamang Sari. Belum genap satu bulan menjabat, ia langsung mendampingi sekolah dalam visitasi akreditasi. Pengalaman ini menjadi tantangan sekaligus pembelajaran awal bahwa memimpin sekolah membutuhkan kesiapan, kolaborasi, dan tanggung jawab bersama.
Sebagai Guru Penggerak Angkatan 10 dan peserta Wardah Inspiring Teacher Gen-8, ia terus berupaya mengembangkan diri. Baginya, keberhasilan seorang guru bukan hanya terlihat dari nilai murid, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan diri dan keberanian mereka meraih cita-cita.
Salah satu kebahagiaan terbesarnya adalah ketika mantan murid datang bersilaturahmi dan menceritakan keberhasilan mereka. Ada yang telah menjadi guru, menyelesaikan pendidikan sarjana, mulai bekerja, bahkan seorang murid yang dahulu kurang bersemangat belajar berhasil menjadi anggota Paskibraka tingkat provinsi. Murid-murid yang dahulu didorong untuk berani berbicara pun tumbuh menjadi pemimpin dan pengurus OSIS.
Pengalaman itu menguatkan prinsipnya dalam mendidik.
“Mengajarlah dengan hati dan keikhlasan. Bimbing murid, ajarkan ilmu dasar, pahami mereka, dan rangkul dengan kasih sayang. Jangan memaksakan kehendak, karena perjalanan pendidikan mereka masih panjang. Berikan mereka kesempatan untuk tumbuh dan meraih cita-cita.”
Kini, sebagai kepala sekolah, ia membawa semangat yang sama: mendampingi guru, mengembangkan potensi murid, dan membangun sekolah yang terus belajar serta bertumbuh.
Baginya, perjalanan seorang pendidik tidak berhenti pada pergantian jabatan atau tempat bertugas. Pengabdian akan terus hidup dalam ilmu, nilai, dan kebaikan yang ditanamkan kepada generasi penerus.
Mengajar dengan hati, memimpin dengan amanah, dan menyalakan cahaya masa depan.
Via
Tokoh
Posting Komentar